Kamis, 25 Maret 2010
Mama
Rabu, 27 Januari 2010
You...You
loneliness,its all bcuz of u.
Once again,can u hug me in ur arms?
Ure the only one i luv
For the first time and last time
Diketik,pada saat english sayah tiba" bagus, koneksi lagi jelek, dan nunggu
mie instan mateng. . .
Well, iam so hungry.
Jumat, 09 Oktober 2009
Apa yang Salah?
Sabtu, 03 Oktober 2009
Perintis Lingkungan Hidup Peraih Penghargaan Kalpataru Tahun 1982

Hutan mempunyai arti penting begi kehidupan manusia. Disamping memberikan hasil berupa kayu dan kekayaan alam yang terkandung di dalam nya,hutan juga memberikan sumber air, mencegah erosi dan sebagainya.
Namun manusia sering tidak mau mengerti. Penebangan dan pembakaran hutan terjadi dimana-mana, tanpa memperhitungkan akibatnya. Demikian halnya yang terjadi di Cianjur Selatan, tepatnya di desa Cidamar Kecamatan Cidaun. Daerah yang dulunya hijau penuh hutan menjadi gundul gersang. Akibatnya banjir dan erosi merajarela.
Melihat keadaan yang semakin parah, seseorang yang bernama Samsi Puradiwangsa merasa terpanggil untuk turun tangan. Pada tahun 1959, ketika masih aktif mengajar di berbagai sekolah di Cianjur, beliau mulai berjuang mengamankan hutan yang tersisa. Tanpa mengenal lelah beliau keluar masuk Cidamar, berusaha menyadarkan masyarakat setempat untuk mengolah tanahnya dengan baik tanpa merusak hutan, antara lain melalui dakwah dan ceramah-ceramah.
Untuk itu Beliau harus mondar-mandir dari Cianjur ke Cidamar dengan berjalan kaki dan menyebrangi 7 buah sungai dengan getek ( alat transportasi sungai terbuat dari bambu ). Dari Cianjur ke Cidamar, waktu itu harus ditempuh selama satu hari satu malam.
Tahun 1961 Beliau mulai aktif menghubungi pihak pemerintah untuk merubah status hutan yang tak bertuan untuk dijadikan hutan lindung ( cagar alam ). Di sela-sela kesibukannya sebagai guru, Samsi Puradiwangsa mengadakan kontak dengan pihak pemerintah baik daerah maupun pusat.
Pada tahun 1973 apa yang diidamkannnya jadi kenyataan. Hutan seluas 750 hektar dijadikan hutan lindung yang dikenal sebagai Cagar Alam Bojonglarang Djayanti. Cagar Alam tersebut adalah hutan primer satu-satunya yang masih tersisa.
Selama perjuangannya dalam usaha mengamankan hutan Samsi Puradiwangsa selalu mengikuti perkembangannya secara terus menerus ( monitoring ).
Hasil monitoring dipakai sebagai bahan untuk melakukan penerangan selanjutnya. Selain itu juga dipakai sebagai bahan penulisan skripsinya di Institut Keguruan Ilmu Pendidikan Bandung
( sekarang UPI ). Sehingga pada tahun 1975 memperoleh gelar sarjana lengkap.
Berkat jasa Samsi Puradiwangsa, kini masyarakat setempat menjadi sadar akan pentingnya hutan. Tidak ada lagi penebangan hutan, bahkan masyarakat mengusulkan agar daerah hulu sungai Cidamar dihutankan juga, karena pemukiman mereka terancam banjir.
Tapi sayang sikap kesadaran masyarakat Cidaun tersebut hanya bertahan beberapa tahun saja, sekarang hutan kembali ke asal semula menjadi gundul lagi, padahal pemerintah sudah menyatakan hutan sebagai cagar alam. Generasi muda di Cidamar seolah tak peduli lagi pada lingkungannya sendiri yang notabene sebenarnya merupakan amanah dari yang kuasa yang sudah sepantasnya kita jaga.
Bapak Samsi Puradiwangsa yang kian renta dan sekarang berdomisili di Bandung sering kali menangisi hasil perjuangannya, beliau kecewa pada masyarakat Cidamar. Beberapa tahun yang lalu sebelum beliau mengalami pikun?????. beliau berkunjung ke Cidamar sambil memeluk tunggul kayu beliau pun meneteskan air mata. Air mata kekecewaan sekaligus ungkapan rasa sayangnya pada hutan malangnya. Padahal beliau sangat menaruh harapan yang tinggi pada generasi muda di sana untuk menjaga dan meneruskan perjuangan untuk merawat Hutan lindung Bojonglarang karena apa daya tubuhnya yang kian renta tak lagi perkasa untuk melintasi tujuh sungai lagi.
Note ini saya buat sebagai tribute untuk kakek saya, H. Samsi Puradiwangsa.
Minggu, 31 Mei 2009
Elf Pangalengan VS KRD Priangan Kelas Ekonomi Bagikan
“ Ya Hallo Assalamualakum…” jawabku.
“ Waalaikumsalam, nuju dimana teh “ ?. Tanya Mama.
“ Hmm…bade uih mah naek bus…”. Jawabku.
“ ah…naek bus? ….ulah-ulah…turun…sok diturunkeun di tengah jalan…hariwang “ ! . Perintahnya.
Beberapa menit aku berbincang, Mama menutup pembicaraan dengan menyuruku turun untuk ke sekian kali….Ffffgh…sungguh kekhawatiran yang berlebihan pikirku tapi ya sudahlah, aku nurut saja.
Aku pun turun tepat di depan PT . INTI Bandung hendak mencegat elf yang datang, setengah jam pun berlalu elf yang dinanti tak kunjung datang jua dan bus pun nyaris tak keliatan. Hmm….jam pun menunjukan tepat pukul 6 sore…oh Damn…. Jam segini masih di Bandung!!!
Ya udah deh naik angkot Banjaran kalaupun nati kemalamn di jalan aku menginap saja di rumah saudara di Banjaran. Tapi tak disangka akhirnya aku menemukan elf, ya…YihaHa…..Thats My Hero!! Kuda pacuanku menuju Pangalengan tercinta ( Heuheu…berlebihan…).
Turun dari Angkot Banjaran berpindah ke Elf, Wow…penuh sey tapi beruntunglah masih ada tempat kosong di belakang dekat jendela. Aku mulai duduk mempersiapkan diri mengikuti mobil merayap pergi. Ku amati orang-orang di depanku dan di sekeliling, orang –orang berbaju norak, wanita-wanita bermake up tebal 5 cm, aroma parfum yang menusuk hidung, bau minyak bak rongsokan hanyut, dan…Oh…Tidak!!!! Penuh…penuh…sekali berjejal rupanya si Mamang Kondektur terus saja menaikan penumpang baru. Dia pikir kita ini apa? Sungguh tak manusiawi. Rapat…rapat …sekali jarak antar penumpang ha…pasti karena kejar setoran ya mang, ya sudahlah…emang sudah jadi kebiasaan.
Si Mamang Sopir menjalankan mobil bak kesetanan, serong kanan- serong kiri, sudah dia lakukan dengan mahir, sesekali aku dan penumpang lain tersungkur ke depan mengikuti hokum Fisika II tentang Kelembaman, rupanya si mamang tak ragu menginjak rem mendadak.
Menit demi menit menjelang malam ., AG ( angin Gelebug) mulai terasa dingin mengibas-ngibas jilbabku. Panderitaan jenis baru ambil bagian : Wanita bermake tebal tadi mulai muntah-muntah karena alunan mobil mengocok perut mereka. Bau muntah, bau berbagai jenis balsam, minyak cap nyongyong dan
ramuan tolak angin membuat ruang panjang elf menjadi ruang uji mental dan lengkaplah sudah dengan asap rokok yang mengepul dari seorang pemuda tanggung yang necis duduk di sampingku.
Kupikir inilah puncak derita perjalanan ini, karena U Kow What??? Akhirnya wanita itu berhasil menghipnotisku untuk mengeluarkan muntahan…ya…aku muntah, persis muntahan ku itu mendarat di sepatu necis si pemuda tanggung itu…Oups Maaf…^_^
Tips naik elf : Jangan memperhatikan orang yang sedang muntah karena akan menyebabkan sugesti.
KRD Priangan Kelas Ekonomi Jurusan Purwakarta
Sabtu pagi buta aku dan ketiga temanku berangkat menuju station kerta api di Ciroyom, ya kami hendak melancong ke Cikampek, dan kami mencoba naik kereta api kelas ekonomi dengan tujuan ngirit dan nyobain jadi backpacker, cukup dengan mengeluarkan uang Rp.2000 saja kita bisa sampai ke kota tujuan kami ya lumayanlah dibandingkan dengan naik bus Rp. 13.000. Ini kali kedua aku naik kereta yang pertama kira-kira 3 bulan yang lalu itu pun jaraknya gak jauh dari Bandung masih di Cileunyi. Makanya tak sabar rasanya naik …Kami berempat sangat berhati-hati sekali dengan tas kami karena maklum lah rawan sekali copet.
Kami berempat dan 2 bapak tua duduk di kursi yang sama saling berhadapan sesuai dengan bentuk kursi. Sekilas kalau kita memperhatikan laju kereta dari luar pasti yang terlihat itu kereta bergerak dengan cepat beda sekali dengan yang kurasakan kali ini, kereta berjalan lamban, hampir 15 menit sekali kereta berhenti di station yang berbeda. Hmmmm…tak disangka kepalaku berputar. Air liurku asin menahan mual. Pusing…pusing…sekali udara panas yang menyengat itulah rupanya yang jadi tantangan terbesarku…ya maklum biasa di gunung.
Belasan pedagang asongan silih berganti mendatangi kami, sejumlah hilir mudik tak jelas tujuannya …apa mungkin merek pencopet ya…? Sejumlah musisi jalanan berdendang bergantian, tak lama kemudian sayup-sayup suara datang mendekat , kata-katanya santun sekali menyejukan jiwa…cukup menyegarkan qalbu yang lumayan gersang, ya rupanya ada orang yang berdakwah di atas kereta ini tapi coba tebak apa yang terjadi ya….ujung-ujungnya duit!. Sungguh kreatif orang Zaman sekarang ini modus dakwah pun dipakai untuk mencari recehan rupiah. Huaa…gerah sungguh luar biasa dalam sekejap mereka menciptakan pasar berjalan. Ramai…Ramai…. Sekali.
Bosan melihat pemandangan di luar , aku alihkan pandangan tepat ke wajah Bapak tua yang tertidur pulas, kulihat guratan dalam di keningnya cukup menegaskan kalu hidupnya begitu keras, tak lepas dari situ pemandangan aliran sungai dadakan menates dari mulut Bapak tua, terlihat jelas aliran itu tun naik hehehe di atas baju temanku yang dijadikan sandaran olehnya. Temanku tak berani membangunkannya, kasihan ujarnya.
Saat Kami menjaga bapak tua gar tak bangun, kemudian distorsi musik aneh terdengar, rupanya berasal dari dua wanita yang mengalungkan sound sederhana dan datang dari dua arah gerbong yang berlawanan, oouw…ternyata mereka tanpa disengaja bertemu di gerbong yang sama. Mereka mengeluarkan suara terdahsyatnya seolah tak mau mengalah dan tak mu peduli akan kami sebagai pendengarnya.
Yang satu nyanyi : Belah Duren dari JuPe
Yang satu nyanyi : Kenanglah diriku dari Ridho Irama.
Cukup Sudah !!
Entah berapa kali kereta berhenti yang ku iingat hanya beberapa stasion saja : andir-Gadobangkong-Padalar
TIPS ke2 : Jangan belaga jadi Backpacker kalau belaum siap mental.
Dua perjalanan yang menyenangkan sekaligus menggerahkan , tapi ada satu pelajaran yang dapat dipetik , dua kendaraan tadi cukup menggambarkan kondisi transportasi di Negara ini, kapan ya kita bisa nyaman seperti di luar negeri?
Senin, 06 April 2009
Visit Pangalengan (2)
Karena kalo bukan kita siapa lagi yang akan mencintai pangalengan kita yang tercinta, betul?
Mengenai topik Pangalengan dijadikan tempat wisata ??
ya...kan dari dulu juga pangalengan itu sudah jadi tempat wisata hanya saja belum ada pengelolaan yang mantap dan terencana sehingga Pangalengan pamornya masih kalah dengan Lembang dan Ciwidey.
Oia menurut koran yang saya baca bahkan perum perhutani membutuhkan dana kurang lebih 10 miliar untuk mengembangkan wisata alam yang sudah ada di Pangalengan...Wow....Its so amzing harga nya lumayan gede.
- Kawasan Pangalengan mulai dilirik lebih serius sebagai tujuan wisata di Bandung. Targetnya Pangalengan dapat menjadi kawasan wisata alternatif setelah Lembang.Untuk mengembangkan wisata Pangalengan ini dibutuhkan investasi hingga Rp 10 miliar. Salah satu investor yang berminat mengembangkannya adalah Bentala Jaya Mandiri Group. Rencana pengelolaan tersebut rencananya akan dialokasikan untuk beberapa tempat diantaranya Cibolang serta Hutan Lindung Rahong," kata Direktur Keuangan Bentala Jaya Mandiri Group Rida Farida, Rabu (30/7).
Ia menambahkan, Gunung Puntang dan Rahong direncanakan sebagai pusat kegiatan outbond. Sedangkan di Cibolang akan dikembangkan obyek wisata pemandian air panas. Areal wisata di Pangelangan sendiri ada di bawah Perum Perhutani.
Menurut Rida, pihaknya sudah mengantongi izin dari Perhutani untuk mengelola ketiga obyek wisata tersebut selama 25 tahun ke depan. Dengan izin tersebut, Rida bertekad menjadikan Pangalengan sebagai tujuan wisata utama di Bandung.
Rida menuturkan, investasi sebesar Rp 10 miliar ini akan dipakai untuk membangun infrastruktur maupun melengkapi fasilitas di obyek wisata yang sudah ada, termasuk membangun hotel berbintang.
Pertanyaannya di sini adalah.........
Benarkah dengan dana 10 miliar itu Pangalengan akan naik Pamor di bidang Pariwisata????
kita lihat saja nanti !!!
sumber : Tribun Bandung, Juli 2008.
Sabtu, 21 Maret 2009
Visit Pangalengan (1)

Pangalengan merupakan sebuah kota kecil di sudut selatan kota Bandung. Dimana daerahnya itu dikelilingi oleh pegunungan dengan ketinggian di atas permukaan laut antara 1.000-1.420 meter. Suhu udara antara 12-28 derajat celcius, basah udara antara 60-70 %. Kondisi seperti ini tentu saja sangat cocok untuk perkembangan sapi perah juga cocok untuk perkebunan teh dan tanaman sayuran.
Dengan didukung kondisi alam tersebut maka tak heran jika hawanya pun nan sejuk terasa. Lukisan alam pun membentang indah seolah membentengi Pangalengan. Mungkin banyak dari orang tak mengenal Pangalengan padahal letaknya tak jauh dari kota Bandung, dan memang pamor Pangalengan kalah dengan Lembang dan Ciwidey. Dengan alasan ini pulalah saya menulis arikel ini. Besar harapan saya agar semua orang tahu dan mengenal Pangalengan. Lihat goresan tangan Illahi di Pangalengan, indah bukan?
Ada Apa Dengan Pangalengan?
" Pangalengan, tiris euy!". Begitulah Kata pertama yang terlontar dari teman saya saat berkunjung ke Pangalengan. Tapi Its O.K, Never Mind.
Tapi hal serupa juga bisa anda rasakan saat berkunjung ke Pangalengan, Penasaran kan? Ada beberapa alternatif wisata yang bisa anda kunjungi diantaranya :
- Situ Cileunca
Terletak kurang lebih 1 km dari pusat alun-alun Pangalengan. Akese menuju ke sana pun sangat bagus. Jadi tak usah khawatir bagi anda membawa kendaraan kesayangan anda. Di tempat ini anda akan disuguhkan dengan pemandangan eksotik dari situ cileunca, yaitu sebuah danau buatan peninggalan Imperialis Belanda.
Sempatakanlah diri dan keluarga tercinta anda untuk refreshing dari kepenatan kota dengan makan bersama(botram) di pinggiran danau ditemani dengan tontonan alam dan riakan air yang bisa memnawa kita untuk tafakur. Untuk lebih puasnya lagi bawalah anak-anak anda untuk berkeliling danau dengan menyewa perahu. Harganya pun terjangkau, asalkan kita pintar untuk menawarnya.
Bagi anda yang berrnyali besar, hmmmm bisa coba olahraga yang satu ini, Yupz Arung Jeram! Kita bisa berarung Jeram di Sungai Palayangan yang letaknya masih di sekitar situ Cileunca.
Wow...tertantangkah anda?
2. Kebun Teh Malabar
Bagi anda yang suka berwisata kebun tempat ini bisa dijadikan pilihan. Di tempat ini terbentang luas hamparan hijau teh nan indah dan segar yang begitumemukau menghiasi bukit sehingga nampak meliuk-liuk.
ini foto saya dan teman-teman yang lumayan narsis
Stay keep Clean!
Perjalanan akan tersa nikmat dan lengkap bila ditemani makanan khas sunda seperti nasi liwet, sambel, peda beureum, lalapan, dan sebagainya,, duh saat menulis kalimat ini perut saya bunyi dan langsung berkata " Manyus...". Tempat utnuk botram kita tak usah repot-repot sewa tempat, karena lama bebas lah yang jadi tempatnya, dikelilingi oleh kebun teh,asalkan kita bisa menjaga kebersihannya.
Tidak cukup sampai di situ, kita pun bisa menapaki jejak sejarah Tuan Bosscha di perkebunan teh Malabar, dengan melanjutkan perjalanan sedikit ke sebelah timur kita akan menemukan makam Bosscha.
Bagi orang kota, Bosscha lebih dikenal dengan teropong Bintang an Observatoriumnya di Lembang( Bandung Utara), Hmmm...ada hal yang menggelitik di sini yaitu keterkaitan antara Lembang dan Pangalengan, yang satu di utara dan yang satu di Lembang,,ujung ke ujung.